Monday, 12 October 2015
Friday, 9 October 2015
tong-tong!
![]() |
| Sri Maryanto, Goodman, Lithographie, 2013 |
Tema-tema pembicaraanya sangat luas, dari basiyo sampai Daniel Richter, dari arisan sampai ranah politik luar negeri, dari urusan perut sampai urusan akhirat. Setiap orang yang kenal menjulukinya perpustakaan keliling, apapun yang sedang dibicarakan orang selalu saja dia punya data yang akurat dan sumber terpercaya, layaknya kepala badan intelejen negara.
Namun banyak juga yang tidak menyukai keterbukaannya, contohnya orang yang tidak mau nama harumnya di masyarakat dikupas ulang, alias dipertanyakan ulang, para maling berdasi misalnya. Tapi sebenarnya hal tersebut jarang bahkan belum pernah terjadi, yang malah sering dilakukannya adalah menertawakan diri sendiri, seperti badut-badut dalam sirkus, perilakunya yang otentik itu sekaligus untuk membuat senang orang lain. Yang paling mengesankan adalah kejujuran. Tak malu untuk mengakui bahwa masih ada orang lain yang lebih cakap, di atas langit masih ada langit!
Sunday, 4 October 2015
Lithographie is not dead!
Sesuatu di sungai;Something in the river;irgendetwas in den Fluss;quelque chose dans la rivière
Tahun: 2015; Teknik: Lithografie; Ukuran: 107 x 75,5 cm; Edisi: 3/4
Berawal dari ingatan masa kecil tentang sungai-sungai yang dikabarkan penuh hantu gentayangan. Konon kabarnya hantu-hantu itu asalnya dari arwah korban pembantaian pada tahun 1965. Entah benar atau tidak setiap melintasi sungai-sungai tersebut, perasaan ngeri semakin menjadi-jadi, apalagi melihat tekstur terjal tebing sungai besar yang berkedung itu beserta gelap bayangan dari rimbunnya dahan pohon-pohon di pinggiran sungai.
Ketika itu setiap tahun tepatnya tanggal terakhir september melalui satu-satunya siaran stasiun televisi negeri, selalu diputar film panjang sejarah bengkok bikinan orde baru yang di sutradarai arifin c noor. Setiap tahun pula kami selalu mengulang-ulang gosip cerita tentang film itu, sampai akhirnya rezim diktator suharto diganti rezim reformasi yang sedikit terbuka, film tersebut tak di putar lagi karena ketahuan banyak bohongnya oleh para ahli sejarah. Namun bagi kami cerita yang digambarkan dalam film itu sudah menjadi bangunan yang kokoh di dalam otak sehingga butuh nyali kuat untuk memungkirinya.
Seiring dengan banyaknya membacai buku-buku sejarah yang berasal dari sumber independent, aku jadi semakin sadar kalau selama ini telah dibohongi nggak karu-karuan. Seperti kerbau yang dicocok hidungnya keadaan generasi kami. Betapa bodohnya aku jika tetap melanggengkan bangunan yang kokoh tadi, apalagi mengamini kelakuan biadab para penguasa yang ingin masalah kelam tersebut tetap tersembunyi di bawah sungai.
Selain untuk mendokumentasikan peristiwa yang tak terdokumentasikan, aku juga ingin melawan rasa takut terhadap hantu-hantu di sungai besar. Rasa hormat terhadap para korban membuat saya yakin bahwa kenyataan harus tetap dikabarkan.
Starting from childhood memories of rivers full of ghosts that reportedly haunts. The legend says the ghosts that came from the spirits of victims of the massacre in 1965. Whether true or not any crossing these rivers, horror deepened, let alone see the texture of the steep cliffs of the river and the dark shadow of a thick tree branch at the riverside.Every year, exactly on last september through sole public broadcasting television station, has always played a 4 Hour history of crooked homemade films new order which directed arifin c noor. Each year also we are always repeating gossip story of the film, until finally the regime of dictator Suharto regime reform replaced the slightly open, the film never played again because many lie unnoticed by historians. But for us the story depicted in the film was already a solid construction in the brain so that it took guts strong to deny.Along with the many history books reading that comes from independent sources, I became increasingly aware that so many lie from new order regime. Its look like a slave is the state of our generation. How stupid of me if still perpetuate a sturdy building before, let alone agrees savage behavior of the rulers who want the dark matter remains hidden beneath the river.
Tahun: 2015; Teknik: Lithografie; Ukuran: 107 x 75,5 cm; Edisi: 3/4
Berawal dari ingatan masa kecil tentang sungai-sungai yang dikabarkan penuh hantu gentayangan. Konon kabarnya hantu-hantu itu asalnya dari arwah korban pembantaian pada tahun 1965. Entah benar atau tidak setiap melintasi sungai-sungai tersebut, perasaan ngeri semakin menjadi-jadi, apalagi melihat tekstur terjal tebing sungai besar yang berkedung itu beserta gelap bayangan dari rimbunnya dahan pohon-pohon di pinggiran sungai.
Ketika itu setiap tahun tepatnya tanggal terakhir september melalui satu-satunya siaran stasiun televisi negeri, selalu diputar film panjang sejarah bengkok bikinan orde baru yang di sutradarai arifin c noor. Setiap tahun pula kami selalu mengulang-ulang gosip cerita tentang film itu, sampai akhirnya rezim diktator suharto diganti rezim reformasi yang sedikit terbuka, film tersebut tak di putar lagi karena ketahuan banyak bohongnya oleh para ahli sejarah. Namun bagi kami cerita yang digambarkan dalam film itu sudah menjadi bangunan yang kokoh di dalam otak sehingga butuh nyali kuat untuk memungkirinya.
Seiring dengan banyaknya membacai buku-buku sejarah yang berasal dari sumber independent, aku jadi semakin sadar kalau selama ini telah dibohongi nggak karu-karuan. Seperti kerbau yang dicocok hidungnya keadaan generasi kami. Betapa bodohnya aku jika tetap melanggengkan bangunan yang kokoh tadi, apalagi mengamini kelakuan biadab para penguasa yang ingin masalah kelam tersebut tetap tersembunyi di bawah sungai.
Selain untuk mendokumentasikan peristiwa yang tak terdokumentasikan, aku juga ingin melawan rasa takut terhadap hantu-hantu di sungai besar. Rasa hormat terhadap para korban membuat saya yakin bahwa kenyataan harus tetap dikabarkan.
Starting from childhood memories of rivers full of ghosts that reportedly haunts. The legend says the ghosts that came from the spirits of victims of the massacre in 1965. Whether true or not any crossing these rivers, horror deepened, let alone see the texture of the steep cliffs of the river and the dark shadow of a thick tree branch at the riverside.Every year, exactly on last september through sole public broadcasting television station, has always played a 4 Hour history of crooked homemade films new order which directed arifin c noor. Each year also we are always repeating gossip story of the film, until finally the regime of dictator Suharto regime reform replaced the slightly open, the film never played again because many lie unnoticed by historians. But for us the story depicted in the film was already a solid construction in the brain so that it took guts strong to deny.Along with the many history books reading that comes from independent sources, I became increasingly aware that so many lie from new order regime. Its look like a slave is the state of our generation. How stupid of me if still perpetuate a sturdy building before, let alone agrees savage behavior of the rulers who want the dark matter remains hidden beneath the river.
Saturday, 3 October 2015
Curriculum Vitae
Sri Maryanto
Born : Klaten,
Indonesia, 13 Mei 1976.
Education : 2006 Graduated S1 Faculty of Fine Art Indonesian Institut of Art, Yogyakarta.
2012 began to study at AdBK München, class Prof. Markus Oehlen.
email : sri_maryanto@yahoo.com
Education : 2006 Graduated S1 Faculty of Fine Art Indonesian Institut of Art, Yogyakarta.
2012 began to study at AdBK München, class Prof. Markus Oehlen.
email : sri_maryanto@yahoo.com
Awards
:
2001 Best Drawing at Indonesian Institut of
Art (ISI Yogyakarta)
2003 3rd Winner of Indonesian Graphic
Art Triennial of 2003
Art
Activities :
2003 Founding ORABER - total produk grafis -
grafic fine art on functional stuff like T-shirts, bags, clocks, postcards,
patch.
2002 Workshop Lino Cut with Berliner Handpresse
at LBK Taring Padi Yogyakarta
Workshop Etching and Mezzotint at Studio Grafis
Balekambang, Jakarta
Solo Exhibition
2014 Der sprechende Stein, Bentara Budaya
Jakarta, Indonesia
2008 Under Pressure, Via Via Cafe,
Yogyakarta, Indonesia
2007 Organisma Kota, Redpoint Galery,
Bandung, Indonesia
2002 Pocongan, Sanggar Caping Yogyakarta,
Group
Exhibition
2016
Schwabinger 7, Galerie Nova, Praha Republik Ceko
Under My Thumb, Neu West Berlin, Berlin
Jahresausstellung 2016, AdBK München
Andy(i) Wand, AdBK München
2016
Schwabinger 7, Galerie Nova, Praha Republik Ceko
Under My Thumb, Neu West Berlin, Berlin
Jahresausstellung 2016, AdBK München
Andy(i) Wand, AdBK München
2015
Main Grafis, Nalar roepa, Yogyakarta
die kleine Bürger, Galerie Huren und Soehne, München
Fake for Glory, Galerie Royal München
Trienal Seni Grafis Indonesia V 2015
Jahresausstellung 2015, AdBK München
Jahresausstellung 2015, AdBK München
Kleines
Atmen, Klasse Prof.
Markus Oehlen, AdBK München
Oehlen
Maschine II, Galery
Robert-Weber München
2014
Jahresausstellung 2014, AdBK München
Oehlen
Maschine I, Page
Gallery München
Der
Schmetterling im Wandel der Zeit zu Gast im Sitzungssaal, AdBK München
FKI (Festival kesenian Indonesia) ISI
Yogyakarta,
Kunst,
Kultur, und Respekt, BBK
München, Germany
Quarrel/Lithografien, München
2013
Diversitäten
III, München
Via-Via Café, Yogyakarta
Jahresausstellung
2013, AdbK München
Der
Stein, Lithowerkstatt
AdbK München
Sonder
Ausgabe, Radier
Verein München
2012
Diversitäten
II, München
2011
XVI. Deutsche Internationale Grafik
Triennale Frechen, Germany
2010
"The
Comical Brothers", Galeri Nasional, Jakarta
"Monoprint",
Gallery Andy, Grand Indonesia, Jakarta
Oraber
at Jogja Art Fair III, Taman Budaya Yogyakarta
"9th
World Print Annual", Miniprint Lassedra, Bulgaria
2009
"Exposigns",
Jogja Expo Center, Yogyakarta
"Deer
Andry", Mess 56, Yogyakarta
"History
Lessons", Project room VWFA Kuala Lumpur, Malaysia
"I
Report I Decide", Tujuh Bintang Art Space, Jogjakarta
"Way
of Distortion", Galeri Milenium, Jakarta
"Jogja
Art Fair II", Taman Budaya Yogyakarta
"8th
World Print Annual", Miniprint Lassedra Bulgaria
"Oemar
Bakri", Jogja Gallery, Yogyakarta
"Trienal
Seni Grafis Indonesia III", in 4 Cities of Indonesia
2008
"Seksi
Nian", Jogja Gallery, Yogyakarta
"It’s
fun(d)", gallery Biasa, Yogyakarta
"Celebrating
the differences", Elegance Gallery,Jakarta
"Survey" at
Edwin's Gallery,Jakarta
"Graphic
Art Today", Bentara Budaya Jakarta
"Graphic
Art Now" , Tembi Contemporary, Yogyakarta
"Jogja
Art Fair I", TBY, Yogyakarta
"Kere Munggah Bale", Bentara Budaya, Yogyakarta
"Hello
Print", Edwin`s Gallery, Jakarta
"YA-SIN",
Yogya Gallery, Yogyakarta
"Jogjakarta
Death Match", Roommate, Yogyakarta
2007
"Domestik
Art Objekt", Jogja Gallery
"Neo Nation", Jogjakarta Bienalle Yogyakarta,
Jogjakarta Nasional Museum, Yogyakarta
"Jogja
Printmaking", Taman Budaya Yogyakarta
2006
"Trienal
Seni Grafis Indonesia 2006" at 5 Cities (Jakarta, Bandung, Yogyakarta,
Malang, Bali)
Enviromental
Art with Gledek 99, Bebeng, Yogyakarta
"Sedulur
Gempa", Goethe Institut Jakarta
2005
"Melihat Jagad dari Kaliurang", Djagad Galeri Akademi, Museum
Ullen Sentalu, Yogyakarta
"Ligeros de Equipaje; Bagasi
Ringan", Taman Budaya
Yogyakarta
"Kotakatikotakita", Festival Kesenian Yogyakarta XVII,
Taman Budaya Yogyakarta
2004
"BAZART", Festival Kesenian Yogyakarta at Benteng Vredeburg
Yogyakarta
"Omong
Kosong", new art from Java, Australia
"Bumi untuk Semua", Benteng Vredeburg, Yogyakarta
"Third
World Art Print Annuall", Miniprint Lassedra Bulgaria
Lustrum IV ISI Yogyakarta at Galeri
ISI Yogyakarta
"Hari Ulang Tahun AIDS Sedunia" at Benteng Vredeburg
Yogyakarta
2003
"Pratisara Affandi Adhikarya 2003", Galeri ISI Yogyakarta
"Trienal
Seni Grafis Indonesia 2003" at 4 cities (Jakarta, Denpasar, Yogyakarta, and
Bandung)
"The
11th International Bienal Print and Drawing Exhibition 2003" R.O.C.
Taiwan
"Reply",
Festival Kesenian Yogyakarta XV Taman Budaya Yogyakarta
"Percakapan" (conversation), Gledek 99 at Taman Budaya Surakarta
"Hujan-hujanan"
Kampus II UAJY Yogyakarta
2002
"Jadikan Aku Pacarmu", Sanggar Caping at
Benteng Vredeburg Yogyakarta
"Mengikat
Hati", Sanggar Caping at British Council Jakarta
Lino
Cut at 4 Warung Yogyakarta
Lino Cut at Goethe Institut Jakarta
Lino Cut at Goethe Institut Jakarta
2001
Comic
(Komisi) at MSD (Modern School Design) Yogyakarta
Drawing
Organik, Gledek 99 at Sanggar Caping Yogyakarta
2nd Exhibition "Gledek 99" at Benteng
Vredeburg Yogyakarta
Illustration
II at Fine Art Faculty ISI Yogyakarta
2000
1st Exhibition "Gledek 99" at Lorong Seni Murni ISI Yogyakarta
Dies Natalis,
Institut Seni Indonesia Yogyakarta
Colaboration
Sanggar Caping and Sanggar ciprat UMS (Universitas Muhammadiyah Surakarta)
Colaboration
Sanggar Caping and UNNES (FBS Universitas Negeri Semarang)
1999
1st
Exhibition Sanggar Caping at Gampingan, ex Fine Art and Design Faculty (FSRD ISI)
Yogyakarta
Subscribe to:
Posts (Atom)


